Mengenal Sejarah Gunung Kawi

Malang -Mendengar nama Gunung Kawi mungkin akan terlintas kesan mistis. Akan tetapi itu tidaklah benar, hal ini langsung dibuktikan oleh para peserta Datsun Risers Expedition.

Dalam melihat sejarah Gunung Kawi dan mematahkan mitos negatif gunung Kawi, para peserta Datsun Risers langsung ditemani oleh juru kunci dan masyarakat sekitar yang bertanggung jawab mengelola Makam Pasarean Kawi, Eyang Jugo Kyai Zakaria dan Eyang Raden Mas Iman Sujono.

"Di sini ada makam Eyang Jugo Kyai Zakaria dan Eyang Raden Mas Iman Sujono. Eyang memang memilih untuk dimakamkan di Gunung Kawi. Saat itu keduanya di waktu yang berbeda langsung dibawa oleh masyarakat sekitar dibawa ke sini untuk dimakamkan. Dan di sini itu bukan untuk meminta tuyul atau apa pun tetapi meminta berkah dari Tuhan Yang Maha Esa melalui keberkahan Eyang," ujar petugas informasi makam Eyang Jugo Kyai Zakaria dan Eyang Raden Mas Iman Sujono, di Gunung Kawi, kabupaten Malang Kec. Wonosari.

"Jadi kalau ada rumor makam ini buat pesugihan, itu tidak benar. Tapi dengan yakin dan tulus, In Sya Allah doa melalui Eyang bukan berdoa ke Eyang bisa dikabulkan Yang Maha Kuasa. Di sini memang ada ritual setiap 1 Suro dan 12 Suro, tapi Alhamdulillah ritual ini membawa berkah semuanya, terbukti yang jualan di sini menjadi berkah karena Eyang dimakamkan di sini," katanya.

Dalam Makam Pasarean Kawi, para peserta Datsun Risers Expedition melantunkan doa berdasarkan kepercayaan masing-masing, mendoakan agar Eyang Jugo Kyai Zakaria dan Eyang Raden Mas Iman Sujono diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, sekaligus menyampaikan doa masing-masing peserta agar bisa dilanjutkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena saat ini posisi Eyang Jugo Kyai Zakaria dan Eyang Raden Mas Iman Sujono sudah lebih dekat kepada Sang Maha Penguasa.

"Di dalam makam Eyang memang banyak sekali jam. Jam ini menandakan, di kehidupan ini adanya perubahan, di saat jarum jam panjangnya berada di atas untuk tidak lupa terhadap jarum jam yang lebih pendek berada di bawah. Jadi harus tetap bersyukur. Selain itu banyak warga yang menaruh lampu minyak di dekat makam, lampu minyak itu dianggap sebagai bintang terang, filosofinya ini untuk menerangi usaha dan rumah tangga. Lalu selalu banyak yang mengatakan kenapa China banyak sukses setelah datang ke sini, ini banyak yang mempengaruhi. Seperti modal mereka lebih banyak, mereka lebih tekun, dan kalau melihat sejarahnya mereka tidak pernah melupakan leluhurnya," katanya.

"Dan kalau dilihat, makam ini mengajarkan Tri Dharma, hal ini terlihat pada anak tangga menuju makam Eyang yang menandakan ada tiga tingkatan. Tingkat bakti kepada Tuhan, orang tua dan mertua, serta bangsa dan negara," tambahnya.

Para risers merasa sangat beruntung bisa menyambangi Gunung kawi, sekaligus melihat budaya asli yang ada di Gunung Kawi. Seperti yang disampaikan Rauzan, risers asal Malang.

"Kita bisa melihat langsung mitos akan mendapatkan tambahan rejeki dan menambah hoki, semuanya dilakukan dengan cara berdoa. Ya ini keren, karena bisa kita tarik dari berbagai sisi, kalau biasanya dijadikan mistis ya tidak juga. Tidak boleh memetik dan di sini semua kalangan bisa diterima, dari berbagai agama hingga kulit tubuh dan semuanya bisa berdoa dan memiliki ritual budaya yang keren," ujar Rauzan.

 

Sumber : http://oto.detik.com/read/2016/11/23/091931/3352150/1207/mengenal-sejarah-gunung-kawi